Produsen Sepatu Bertarung, Pemain dan Konsumen Jadi Raja

Agustus 6, 2008 at 4:05 pm Tinggalkan komentar

RONALDO, Beckham, Zidane, atau pemain sepak bola kelas dunia hingga yang kacangan di Indonesia, atau pemain amatiran sekali pun boleh bergembira. Begitu pula dengan masyarakat. Sebab, persaingan antara produsen sepatu olahraga yang memiliki merek kesohor, seperti Adidas, Nike, Umbro, Reebok, Puma, dan yang lainnya, justru akan memanjakan mereka lewat persaingan antarmereka sendiri.

Hal ini sangat berbeda jauh dengan persaingan yang terjadi di dunia pertelevisian kita yang korbannya malah pemirsa mereka sendiri. Persaingan antara produsen peralatan olahraga, khususnya untuk sepatu bola atau sepatu lari, saat ini bisa dilihat terjadi antara Adidas dan Nike.

Aksi persaingan kedua produsen itu justru berusaha mengeksploitasi bentuk, model, dan jenis bahan seperti apa yang bersahabat dengan kaki penggunanya. Sebab, selain kaki menjadi tumpuan seluruh berat tubuh pemiliknya dan merupakan salah satu anggota badan yang paling penting, konon di kaki itu pula menjadi pusat sejumlah saraf penting.

Untuk itulah, wajar kalau Adidas ataupun Nike berusaha menciptakan sesuatu yang baru setelah mereka melakukan sejumlah penelitian. Walaupun untuk hal yang satu ini Nike jauh lebih agresif, sebab selama perang antara mereka berlangsung, Nike kerap melangsir hasil penelitian mereka secara terbuka.

Contoh paling mudah adalah untuk memberi pelayanan kepada anak yang masih dalam keadaan pertumbuhan, hal ini menjadi salah satu unsur penelitian mereka selain tekanan yang akan terjadi dari masing-masing anak dalam usia tertentu pada sepatu yang akan mereka gunakan.

Untuk itulah, mereka melakukan penelitian bahwa untuk anak yang berusia lima sampai 10 tahun dalam setahun akan mengalami pertumbuhan kaki sedikitnya 9,3 milimeter. Berdasarkan penelitian tersebut, kemudian dilakukan pendekatan pada produksi yang harus mereka lakukan agar si pengguna benar-benar nyaman dan dapat melakukan pergerakan secara leluasa selama di lapangan.

Kemajuan Nike yang berasal dari Amerika Serikat, khususnya dalam bidang penelitian, memang sudah tidak disanksikan lagi. Sebab, memang Nike-lah yang lebih dulu memikirkan kenyamanan para atlet, khususnya atlet dari cabang atletik.

Makanya, tidak perlu heran kalau di kejuaraan-kejuaraan atletik kelas dunia hampir semua atletnya, mulai dari era belum mendunia kemudian era Carl Lewis hingga saat ini, menggunakan sepatu hasil produksi Nike yang memiliki logo simpel itu.

Kemudian ketika mulai menyatakan bertarung secara terbuka dengan Adidas, Nike pun mulai berekspansi ke dunia sepatu bola yang sudah menjadi “kerajaan” Adidas. Nama Nike di lapangan sepak bola mulai mendunia setelah mereka mampu mengambil alih tugas Umbro sebagai sponsor kesebelasan Brasil.

Tentu kita masih belum lupa dengan aksi pemain-pemain kondang Brasil di salah satu bandara yang menggunakan kaus, sepatu, bahkan bola bermerek Nike menjelang Piala Dunia 1998.

Dari situlah Nike juga membuat perjanjian dengan Ronaldo untuk menjadi sponsor sang phenomenon. Buah dari itu adalah sepatu bola khusus bermerek 9 Ronaldo. Sepatu bola ini mudah dikenali karena memiliki warna khas, yakni warna biru seperti yang dipakai Ronaldo setiap kali tampil di mana pun.

Selain sepatu 9 Ronaldo, Nike juga membuat sepatu bola trendi yang mereka beri merek Air Zoom Total 90. Sepatu ini mempunyai desain yang lain karena tempat tali sepatunya di buat miring.

“Desain baru ini juga dilakukan berdasarkan penelitian. Sebab, kalau letak pengikat tali sepatunya di depan, akan mengganggu pergerakan pemain,” kata Arie Christian, Manajer Produksi PT Berca Indosports, yang menjadi salah satu pemegang lisensi pemasaran Nike di Indonesia.

KALAU Nike baru memproduksi beberapa model, Adidas yang bisa dikatakan sebagai “embahnya” lapangan sepak bola sudah memiliki puluhan model sepatu bola hingga yang terakhir model Predator Pulse yang sudah mulai dikenakan sejumlah pemain bintang yang memang disponsori Adidas.

Kelebihan sepatu ini adalah empat garis karet warna merah yang berada di sisi dalam kulit sepatu. “Karet ini bertujuan untuk dapat mengarahkan bola lebih presisi. Sebab, dengan adanya konstruksi karet di sisi dalam kulit sepatu, pemain tinggal menentukan mau ke arah mana si kulit bundar ditujukan,” kata Klaus D Flock, penasihat teknis Adidas Indonesia.

Selain itu, tambah Febry F Momor (Kepala Bagian Promosi Adidas Indonesia), dengan adanya karet tersebut, pemain juga dapat terbantu ketika akan melakukan tendang melengkung.

Jenis sepatu ini, tambah Momor, sebenarnya sudah diproduksi sejak tahun 1994. Hanya waktu itu potongan-potongan karetnya diletakkan di atas kulit luar sepatu. Dan, secara bertahap mengalami evolusi seperti yang terlihat pada Predator II (1995) terus Predator III Touch (1996).

Kemudian ketika produksi Predator Accelerator (1998) mulai diperkenalkan, potongan-potongan kulitnya sudah mulai diletakkan di bawah kulit sepatu. Begitu seterusnya ketika Predator Precision (2000) dan Predator Mania (2002) dikeluarkan sampai Predator Pulse sendiri.

Biasanya, tambah Momor, pemain bintang yang menggunakan Predator Pulse ini antara lain Raul Gonzalez, David Beckham, Zinedine Zidane, dan Michael Ballack.

Selain Predator Pulse, Adidas juga mengeluarkan model sepatu yang betul-betul revolusional, kata Flock. Model sepatu tersebut adalah F50 yang memiliki busa di bagian telapak kakinya terdiri dari tiga lapis untuk lebih memberikan kenyamanan kepada pemain yang menggunakan.

Selain itu, F50 ini didesain tanpa tali sepatu. Dengan demikian, pemain tidak perlu direpotkan untuk mengurus tali sepatu yang terlepas atau kurang kuat ikatannya selama bertarung.

“Desain revolusionernya itu terletak pada garis kuning dari bagian depan di bawah sepatu terus naik ke arah tumit dan turun di bagian belakang. Ini betul-betul berbeda dengan desain-desain sebelumnya. Karena, semua sepatu bola Adidas itu pasti ada lambang tiga strip putihnya di sisi kiri maupun sisi kanan sepatu,” kata Flock.

Akan tetapi, tambah Flock, khusus untuk model F50, garis putihnya diganti dengan warna kuning. “Letaknya pun dipindah di atas lidah sepatu dan sedikit di bagian lidah belakang sepatu. Model ini betul-betul berbeda dari yang sebelumnya.

Seperti sepatu bola lainnya, Umbro-yang menyertai tim Brasil meraih Piala Dunia tiga kali sebelum pindah disponsori Nike-menurut Manajer Pemasaran Billy Boen juga memproduksi sepatu bola model “elite X” yang menjadi bagian dari kostum kebesaran kesebelasan “The Three Lions”.

Selain dari kulit kangguru seperti jenis sepatu bola lainnya, pada model elite X ini di bagian depannya juga diberikan taburan lapisan karet yang dapat membantu pemain mengarahkan maupun melakukan tendangan melengkung.

Agar pemain tidak terganggu dengan tali sepatu yang ada, lidah sepatunya dibuat sedikit lebar untuk menutupi tali. Lidah yang menjulur ke depan itu selain membuat pemain tidak terganggu pada pertemuan kedua sisi sepatu, juga dimanfaatkan untuk meletakan simbol X dari nama model “elite X” itu.

Persaingan antara para produsen perlengkapan olahraga masih terus berlangsung. Itu berarti kita-kita ini akan terus dimanjakan. Sayangnya, persaingan positif itu kok hanya terjadi pada produsen perlengkapan olahraga. Apa karena ada semboyan sportif dan fair play-nya

Bagaimana dengan sisi kehidupan lainnya. Apa enggak kenal fair play dan sportivitas kali ya…. (KORANO NICOLASH LMS)

Entry filed under: Tak Berkategori. Tags: , , .

Bisnis Futsal Yuk.. Ternyata Cinta Laura Sedih cos Spanyol juara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Status

Supported by

pimp myspace

Informasi

tips pemesanan

%d blogger menyukai ini: