Bersatu Membasmi Rasisme di Sepak Bola

Juli 25, 2008 at 6:51 pm Tinggalkan komentar

SEPAK bola sebagai olahraga dan industri kini terancam oleh rasisme. Para pemain kulit berwarna (baca: hitam) sangat gusar atas tumbuh dan berkembangnya rasisme seiring makin sengitnya persaingan, baik di tingkat klub maupun antarnegara. Tingkah laku para penonton rasis di hampir seluruh negara Eropa, seperti Spanyol, Italia, dan Inggris, sangat mengganggu eksistensi sepak bola sebagai olahraga yang sangat menjunjung tinggi fair play.

Rasisme tidak saja ditunjukkan para penonton yang datang ke stadion, tapi telah menghinggapi seorang pelatih sekelas Luis Aragones, pelatih tim nasional Spanyol. Menyedihkan memang.

Betapa tidak, Aragones dalam memacu semangat salah satu pemainnya, Jose Antonio Reyes, terlebih dahulu “mengatai-ngatai” Thiery Henry, rekan satu klub Reyes di Arsenal. Henry “dikatai” sebagai orang hitam yang kualitasnya lebih rendah dari Reyes. Tidak ketinggalan, Reyes juga “dikatai” sebagai seorang gipsi. Sontak publik sepak bola, khususnya Inggris, gempar. Ashley Cole dan pemain-pemain kulit berwarna lainnya menuntut Aragones dipecat.

Menjadi isu besar di Inggris, tapi sebaliknya “biasa saja” di Spanyol. Meski demikian, otoritas sepak bola Spanyol (LFP) atas tekanan opini publik akhirnya bereaksi dengan melakukan penyelidikan. LFP memberikan hukuman denda sebesar 2.060 pound kepada Aragones. Meski menyatakan Aragones bersalah, LFP tidak memecatnya sebagai pelatih tim nasional. Ini membuktikan, LFP berhati dua soal rasisme.

Memang LFP telah meminta maaf secara formal kepada Arsenal, klub tempat Henry bermain. Sementara Aragones menolak meminta maaf karena pernyataan itu menurutnya biasa-biasa saja dan menganggap Inggris sebagai kolonialis. “Saya punya suara hati sendiri soal rasisme,” tegas mantan pelatih Real Malorca yang saat ini menginjak usia 66 tahun itu.

Hukuman yang sangat ringan atas pelaku rasisme ditengarai sebagai pendorong sikap rasis penonton sepak bola di Spanyol untuk tumbuh dan berkembang. Menyangkut perkembangan buruk ini, LFP menyatakan, itu bukan tanggung jawab Aragones.

Pemain-pemain kulit berwarna yang memperkuat tim nasional Inggris, seperti Ashley Cole, Jermaine Defoe, Jermaine Jenas, dan Shaun Wright-Philips, terkena imbas dari berkembangnya rasisme di Spanyol. Pada saat memperkuat tim nasional Inggris berhadapan dengan Spanyol, beberapa waktu lalu, pemain-pemain tersebut terkena ejekan yang bernada rasis dari para pendukung tim nasional Spanyol. Pemain-pemain Inggris bereaksi, termasuk pelatih Sven-Goran Eriksson dan mengecam rasisme penonton Spanyol.

Hal yang sama juga dialami oleh pemain-pemain kulit berwarna yang memperkuat Arsenal sewaktu melawan Valencia. Meski geram dengan UEFA yang lamban, Patrick Vieira gembira dengan sikap yang ditunjukkan John Carew, striker Valencia warga negara Norwegia, yang langsung meminta maaf atas sikap rasis pendukungnya.

Tidak saja pemain-pemain kulit berwarna tim nasional Inggris dan pemain-pemain Arsenal yang terkena ejekan bernada rasis di Spanyol. Pemain terbaik Afrika yang memperkuat Barcelona, Samuel Eto’o, juga kerap kali terkena ejekan bernada rasis. Eto’o tidak tinggal diam dan melakukan perlawanan melalui gol-gol yang selalu dirayakannya dengan menari-nari seperti, mohon maaf, monyet.

Di Italia juga demikian, rasisme tumbuh dan berkembang, khususnya di kota Roma. Pendukung Lazio dikenal sangat rasis. Ejekan bernada rasis tidak saja ditujukan kepada pemain lawan, tapi juga kepada pemain Lazio sendiri yang berkulit hitam. Hal ini dialami oleh Liverani, pemain berkulit hitam warga negara Italia. Malah pemain sekelas Christian Vieri dihinggapi sikap rasis ketika “mengatai” Romano Lua Lua sewaktu masih memperkuat Newcastle United.

Di Inggris apa yang dialami oleh penjaga gawang David James, yang menjadi bahan ejekan di sebuah media cetak yang melakukan polling dengan pertanyaan “pilih keledai atau David James?” Ejekan itu membuat berang seluruh pemain nasional Inggris dan bersumpah tidak akan bicara kepada media massa. Sikap itu didukung penuh oleh pelatih Sven-Goran Eriksson. Rasisme juga dialami oleh Patrick Vieira, Jermaine Jenas, Dwight Yorke, Emile Heskey, Ashley Cole, dan pemain-pemain kulit hitam lainnya yang berlaga di Liga Premiership.

Peristiwa terbaru adalah seusai pertandingan penuh emosi antara Chelsea melawan Barcelona pada babak 16 besar Liga Champions, salah seorang pelayan di lorong Stamford Bridges, kandang Chelsea, mengejek Eto’o sebagai monyet.

DI Indonesia, rasisme juga terjadi. Saya masih ingat beberapa tahun yang lalu bagaimana Theodorus Bitbit dan Noach Merien, pemain nasional asal Papua, yang kala itu memperkuat Pelita Jaya menerima lemparan pisang dari penonton.

Soal rasisme, klub-klub Inggris memiliki komitmen jelas dalam menghapuskan rasisme di sepak bola. Sangat positif memang. Dan baru-baru ini seluruh pemain di Liga Premiership dimotori oleh Thiery Henry, Gianfranco Zola, dan Marcel Desailly mendeklarasikan kampanye antirasis, Unite Against Racism. “Rasisme harus dibasmi atau sepak bola akan menderita,” demikian isi petisi yang dibacakan Ashley Cole. Selain itu, mereka juga menuntut UEFA dan FIFA bertindak tegas soal rasisme. Hasilnya, UEFA merencanakan menghukum klub dan pendukungnya dengan pengurangan 10 poin bila terlibat rasisme.

Kampanye antirasis itu diikuti oleh 52 otoritas sepak bola di daratan Eropa, UEFA, dan liga-liga utama di Eropa. Semuanya sepakat bahwa rasisme menjadi musuh bersama dan harus dibasmi karena membahayakan masa depan sepak bola sebagai olahraga yang menjunjung tinggi fair play.

Menurut Zola, klub berkepentingan untuk melakukan edukasi kepada para pendukungnya, baik di dalam stadion maupun di luar stadion. Klub juga harus bertindak tegas dengan memberikan hukuman keras bagi pelaku rasisme. “Kita harus menerima sebuah perbedaan budaya dan bangsa. Rasisme bertentangan dengan spirit olahraga yang saling menghormati satu sama lain,” lanjut Desailly. Dan bila tidak ada tindakan tegas soal rasisme, sepak bola akan menderita, stadion akan rusuh, dan pemain-pemain muda tidak akan tertarik untuk menekuni sepak bola, jelas Ashley Cole.

Kita gembira dengan komitmen yang jelas dan tegas dari komunitas sepak bola yang melakukan perang terhadap rasisme. Rasisme harus menjadi musuh bersama umat manusia. Semoga rasisme hilang dari permukaan bumi ini, bila tidak, sungguh akan mengganggu kelangsungan sepak bola itu sendiri. Bagaimana dengan sikap PSSI?

Iklan

Entry filed under: BERITA. Tags: , , .

Bola, Wasit, dan Budaya Hukum Kaka ditawar 150juta euro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Status

Supported by

pimp myspace

Informasi

tips pemesanan

%d blogger menyukai ini: