Sepak Bola Industri, Kenapa Tidak?

Juli 1, 2008 at 6:49 pm Tinggalkan komentar


Mulai musim depan pesepakbolaan di Tanah Air akan mengalami perubahan
yang sangat signifikan. Bergulirnya kasta tertinggi yaitu Super Liga
dan pendanaan klub tidak diperbolehkan menggunakan APBD. Sebuah langkah
kemajuan yang sangat luar biasa, meskipun banyak klub yang belum siap
dengan berbagai aturan yang diajukan. Banyak syarat untuk suatu klub
bisa bermain di Super Liga, mulai dari sumber dana, standarisasi
stadion, hingga pembinaan pemain junior. Sepertinya inilah saatnya
untuk membentuk suatu iklim sepakbola yang baik dan memiliki daya jual
yang tinggi.

Kesulitan
keluar dari bayang-bayang PABD menghantui klub-klub yang bergantung
dengan APBD. Berbagai berita tentang dijualnya lisensi klub sudah
timbul di berbagai media. Klub di Indonesia memang sepenuhnya milik
daerah. Kalau pun lisensinya dijual, siapa yang mau membeli klub tanpa
aset? mess, stadion, kontrak pemain dll merupakan aset suatu klub.
Bahkan ada ketua klub yang mau menjual lisensi sampai dengan 100 M.
Itupun juga harus dengan persetujuan dari rakyatnya, bagaimana jika
klub yang sudah mendarah daging itu dijual lalu berpindah homebase?
Jadi konflik tentunya.

APBD bukan untuk Jor-joran

Tapi
sampai saat ini banyak klub yang masih mengeluh, kemana mereka akan
mencari sumber dana. Ketergantungan terhadap APBD merupakan sebuah
rutinitas tahunan untuk membentuk sebuah tim sepakbola. Hal ini akan
menyebabkan daerah kaya dan daerah miskin akan terlihat, karena semakin
kaya suatu daerah maka semakin bermutu tim yang dimiliki.
Kontak pemain yang menggila jika dibandingkan dengan keadaan ekonomi
Indonesia menjadi prestasi sekaligus kontroversi. Bahkan untuk musim
2007 ini pengeluaran klub bisa mencapai lebih dari 20 M, tentu
daerahnya kaya. Uang sebanyak itu dalam setahun sebenarnya akan lebih
baik jika diarahkan ke sektor pendidikan dan kesehatan. Atau setidaknya
uang sebanyak itu bisa digunakan untuk meningkatkan fasilitas sepakbola
di daerah tersebut.

Sponsor?
Perusahaan di Indonesia enggan menghamburkan uang untuk membiayai klub
sepakbola. Kenapa? karena sifat para pelaku sepakbola di dalamnya belum
dewasa. Mulai dari pengurus, pemain sampai penonton semuanya belum bisa
menerima kenyataan yang terjadi. Kenyataan ini diimbuhi oleh berbagai
kebijakan dari PSSI yang setiap tahun berubah. Format kompetisi serta
keputusan yang sering berubah bisa dilihat sebagai tidak
komitmennya PSSI terhadap penyelenggaraan kompetisi. Sepakbola
Indonesia identik dengan kekerasan dan kerusuhan. Tentunya bukan itu
yang dicari oleh pihak sponsor. Sampai saat ini hanya 4 klub divisi utama yang tidak bergantung dengan APBD.

Revolusi dibutuhkan

Melakukan
perubahan secara menyeluruh memang membutuhkan waktu. Manajemen yang
baik tentunya akan bisa menemukan jalan keluar yang baik juga.
Sebenarnya berbagai aspek yang mendukung sepakbola industri bisa
dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Paling mudah adalah belajar dari
pengurus klub yang bisa eksis tanpa APBD. Sebut saja berbagai aspek
tersebut :

  1. Sponsor.
    Membentuk sepakbola industri akan sangat berpengaruh dengan keberadaan
    sponsor. Menggaet sponsor sebenarnya bukan hanya dalam bentuk uang.
    Bisa saja sponsor dicari untuk kostum, fasilitas latihan, transportasi
    bahkan laundry.
  2. Tiket.
    Di Indonesia antusiasme masyarakat sangat tinggi terhadap sepakbola.
    Setiap pertandingan penonton pasti membludak, bahkan sampai melebihi
    kapasitas stadion. Tentunya pemasukan dari tiket akan sangat besar.
    Asalkan tidak ada penonton yang masuk tanpa membeli tiket. Diperlukan
    suatu manajemen yang baik untuk pengelolaan tiket pertandingan.
  3. Hak
    Siar. Ini adalah sesuatu hal yang baru. Pertandingan secara langsung
    sudah mulai digelar di berbagai stasiun televisi. Pihak klub memiliki
    hak untuk mendapatkan hak siarnya. Meskipun sepertinya di Indonesia
    jumlahnya sedikit, mungkin karena penyiarannya tidak melalui tv kabel.
  4. Marchandise.
    Semua atribut mulai dari kostum, syal, topi dll semetinya diatur oleh
    klub. Pemasukan dari penjualan marchandise juga lumayan besar. Kenapa
    tidak dikelola secara profesional. Kesadaran para fans untuk membeli
    produk asli klub juga sangat dibutuhkan. Sudah tidak bisa berbohong
    lagi pembajakan di Indonesia tidak bisa dikendalikan.
  5. Manajemen
    keuangan. Suatu klub kesehatannya bisa dilihat dari keuangannya. Sampai
    saat ini pengeluaran terbanyak tentunya dari kontrak pemain. Kebijakan
    untuk memperbolehkan menggunakan 5 pemain asing juga memperparah
    keadaan. Setiap klub pasti akan memakai jasa 5 pemain asing untuk
    meningkatkan performa. Otomatis pengeluaran uang kontrak semakin
    membengkak.
  6. Pembinaan
    pemain junior. Hal ini merupakan hal standar untuk mencari pemain
    berbakat. Mirip dengan sekolah sepakbola dan tentunya bisa bekerja sama
    dengan pihak pemerintah daerah.

Tapi klub-klub di Indonesia tidak akan bisa berubah sesuai harapan dengan waktu yang cepat. Diperlukan kerja keras dan kesabaran
untuk mencapai hasil yang diharapkan. Bagaimana pun juga perubahan ini
tidak akan berhasil tanpa dukungan semua pihak. Yang jelas jika mimpi
ini menjadi kenyataan, level sepakbola di Indonesia akan merangkak
naik. Sepakbola Indonesia akan memiliki daya jual yang menarik.

No Anarki, No Tawuran, Just Good Football Indonesia!!

Iklan

Entry filed under: BERITA. Tags: , .

ALL ABOUT BECKHAM Profil Messi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Status

Supported by

pimp myspace

Informasi

tips pemesanan

%d blogger menyukai ini: