Cantona Main Sepak Bola Pantai

Juni 4, 2008 at 3:50 pm Tinggalkan komentar

Laki-laki itu tak lagi menunjukkan tanda-tanda sebagai bekas pemain sepak bola hebat. Perutnya mulai terlihat membuncit. Dia pun kini memelihara cambang yang cukup lebat. Hanya satu yang membuat Eric Cantona, nama laki-laki itu, masih gampang diingat, ketidak mampuannya memupus sepak bola dari sanubarinya.

Ketika kawan-kawan seangkatannya seperti Marcel Desailly, Zinedine Zidane, Patrick Vieira, dan Fabien Barthez sudah pulang ke Prancis, Cantona masih bertahan di Lisabon. Agak beda dengan bekas-bekas pemain lain yang jadi komentator televisi di Piala Eropa, Cantona datang ke Portugal untuk main bola. Hanya arenanya yang lain. Dia main sepak bola pantai bersama timnya.

Kemampuan Cantona sudah jauh menurun ketimbang saat dia jadi pujaan di Old Trafford, kandang klub terakhirnya, Manchester United. Tapi dia masih tetap bisa memperlihatkan sisa-sisa kejayaannya. Umpannya masih sulit dibaca lawan. Tendangannya ke gawang sepak bola pantai yang lebih kecil itu masih tetap keras meski kadang-kadang tak terarah.

Cantona memang sudah jauh dari dunia sepak bola seungguhnya. Namun, dia masih bisa memandang banyak hal dengan jernih. Dia, misalnya, menyebut Prancis sebagai tim yang penuh kesombongan. Inilah yang menurutnya membuat Prancis gagal di Piala Eropa kali ini. Mereka sudah besar kepala karena sukses di Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000. “Mereka sombong dan egois. Mereka selalu ingin orang-orang mengatakan kepada mereka bahwa mereka memang yang terbaik,” katanya.

Cantona memang sering patah arang dengan Prancis. Ketika dia mencapai puncak kejayaan di lapangan hijau, berkali-kali dia dikecewakan tim nasional. Tak jarang dia bahkan tak dipanggil untuk memperkuat Les Bleus. Pelatih Prancis, termasuk Aime Jacquet, lebih memiliki penyerang seperti Christophe Dugarry, Patrice Loko, atau Youri Djorkaeff ketika itu.

Tak heran pula bila Prancis bukan tim yang didukung Cantona di Piala Eropa 2004 bukan Prancis, melainkan Inggris. “Saya orang Prancis, tapi saya mendukung Inggris. Inilah negara saya. Saya tak mau tahu apapun soal Prancis. Saya memang lahir di sana, tapi saya merasa lebih sebagai orang Inggris,” katanya. Ya, di Inggrislah Cantona menjadi besar. Dia ikut berjasa membawa Leeds United ke tangga juara. Dia termasuk salah satu bintang di awal era Manchester United merebut kembali kejayaannya.

Dia menyebutkan ada perbedaan karakter Inggris dengan Prancis. Di Inggris, kalau seorang pemain bagus seperti Wayne Rooney, suporternya akan memberikan dukungan penuh. Rekan-rekannya juga. Di Prancis, hanya ada ha-hal negatif yang dikatakan.

Sayangnya, Cantona gagal melihat Inggris terus melaju. Seperti Prancis, mereka sudah tersingkir di perempat final. “Saya sedih, Portugal menang. Buat saya, inilah final sesungguhnya,” ujarnya pula.

Cantona kemudian berjalan melenggang ke pantai. Bersama kawan-kawannya, dengan kaki telanjang, dia mulai menendang bola. Betapa dia menikmati kehidupannya kini, jauh dari hiruk-pikuk seperti saat dia menjadi selebritas di lapangan hijau.

Iklan

Entry filed under: BERITA.

MANSION sponsor Tottenham Hotspur Henry Profile’s

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Status

Supported by

pimp myspace

Informasi

tips pemesanan

%d blogger menyukai ini: