Profil Maradona

Mei 1, 2008 at 12:12 am Tinggalkan komentar

Kala membicarakan pemain legenda Piala Dunia yang satu ini, orang tentu akan teringat gol kontroversial yang disebutnya “Gol Tangan Tuhan” dan “Gol Terbaik Sepanjang Sejarah Piala Dunia” yang dicetaknya hanya dalam satu pertandingan.

Dua hal yang amat bertentangan, keburukan dan keluarbiasaan, yang bergabung menjadi satu, yang mungkin mewakili pula kepribadiannya. Maradona memang sosok yang tak mungkin dilupakan pecinta sepak bola sejagat.

Namun, masih banyak orang yang ingin sekali tahu, siapakah sebetulnya yang paling hebat di antara dua nama besar itu: Pele ataukah Maradona? Lantas, bagaimanakah anak miskin itu meniti jalan hidupnya hingga menjadi salah seorang megabintang sepak bola dunia?

Bocah Miskin dari Villa Fiorito Diego Armando Maradona dilahirkan pada 30 Oktober 1960 di Villa Fiorito, sebuah kota kumuh yang terletak di sebelah tenggara Kota Buenos Aires. Ia dilahirkan dari sebuah keluarga miskin yang pindah ke kota tadi dari Provinsi Corrientes. Maradona adalah anak keempat dari enam bersaudara. Tiga kakaknya semuanya perempuan. Tapi, Maradona punya dua adik laki-laki, yaitu Hugo (el Turco) dan Eduardo (Lalo).Keduanya juga berkarir sebagai pemain sepak bola meski hanya dengan prestasi yang biasa-biasa saja.

Di masa kanak-kanaknya, sebagaimana bocah sebayanya, Maradona pun gemar bermain sepak bola di jalan-jalan di sekitar tempat tinggalnya. Namun, ada yang istimewa pada anak ini. Keterampilannya memainkan bola sudah jauh melampaui kemampuan anak-anak seusianya.

Pada usia 10 tahun, Maradona ditemukan oleh pencari bakat sepak bola saat ia tengah bermain untuk sebuah klub di lingkungan tempat tinggalnya, yakni Estrella Roja. Kemudian, ia pun menjadi anak gawang dari sebuah tim junior di Buenos Aires, yakni di Argentinos Juniors. Saat masih menjadi anak gawang inilah, ia kerap menunjukkan kemampuannya memainkan bola di sela-sela waktu istirahat pertandingan. Banyak orang terpukau melihat keterampilannya itu.

Masuk Boca Juniors Pada usia 15 tahun, ia memulai debutnya bersama klub Argentinos Juniors. Di sini, ia bermain dari tahun 1976 sampai 1981. Setelah itu, ia ditransfer oleh klub Boca Junior pada 1981-1982. Bisa dibilang, ini permulaan ia memasuki dunia liga sepak bola.

Kiprah Maradona di tim nasional Argentina dimulai saat ia berusia 16 tahun. Di usia 18, ia memperkuat tim Argentina dalam Kejuaraan Dunia Junior dan menunjukkan bakatnya yang luar biasa. Waktu itu, tim Argentina yang dimotori Maradona menggulingkan tim Rusia di babak final dengan skor 3-1.

Karir Maradona kian melejit. Pada 1982, di Spanyol, ia pertama kali diikutkan dalam ajang Piala Dunia bersama tim nasional senior Argentina. Meski demikian, pada Piala Dunia 1978 sebenarnya sudah banyak publik Argentina yang menginginkan Maradona memperkuat tim nasional senior Argentina. Namun, pelatih Argentina, Cesar Luis Menotti, menilai ia masih terlalu muda untuk tampil dalam ajang sekeras dan seberat Piala Dunia.

Seusai kejuaraan Piala Dunia 1982, Maradona kemudian ia ditransfer oleh klub Barcelona. Saat itu, Barcelona dilatih oleh Cesar Luis Menotti, dan berhasil meraih gelar juara Copa Spanyol. Saat bersama Barcelona, selama sekitar setahun, Maradona pernah mengalami cedera akibat tekel keras pemain Athletic Bilbao, Andoni Goikoetxea.

Pada 1984, giliran Maradona ditransfer oleh klub Napoli, Italia. Di sinilah ia mulai menjadi pemain bintang yang dipuja-puja para penggemarnya. Saat diperkuat Maradona, Napoli memang melejit prestasinya. Klub itu berhasil menjuarai Liga Italia (1986/1987 dan 1989/1990), menjuarai Copa Italia (1987), dan menempati posisi satu di UEFA Cup (1989). Selain itu, Napoli juga sukses menjadi juara Super Cup Italia (1990). Klub yang dinakhodai Maradona itu juga dua kali meraih gelar runners-up di liga Italia.

Bersinar di Meksiko
Maradona sukses membawa tim Argentina menjadi juara Piala Dunia 1986 di Meksiko. Di babak final, kala itu Argentina menang 3-2 atas Jerman Barat. Di turnamen inilah pula dua gol yang dicetak Maradona saat Argentina melawan Inggris di babak seperempat final membuat ia terkenal. Gol pertama adalah gol paling kontroversial sepanjang sejarah Piala Dunia, sedangkan gol kedua yang dicetaknya benar-benar memperlihatkan keterampilan individu Maradona yang tak ada tandingannya.

Gol pertama yang akhirnya menjadi gol paling kontroversial sepanjang sejarah Piala Dunia itu dicetak Maradona dengan bantuan tangannya. Hal ini terlihat dengan mudah melalui rekaman video pertandingan tersebut. Tapi, waktu itu, gol tersebut disahkan wasit. Belakangan, Maradona menyebut gol itu sebagai “Gol Tangan Tuhan”. Pasalnya, menurut Maradona, gol itu melibatkan “bantuan” Tuhan sehingga wasit pun tak melihatnya.

Sedangkan gol kedua dicetak Maradona dengan cara yang sangat menakjubkan. Ia membawa bola sendirian hampir setengah lapangan. Lantas, ia juga mampu melewati tiga pemain Inggris sebelum akhirnya menyarangkan bola ke gawang. Gol ini terpilih menjadi “Gol Terbaik Sepanjang Sejarah Piala Dunia” berdasarkan sebuah polling FIFA pada 2002.

Di Piala Dunia 1990, Maradona masih sempat memimpin tim Tango. Ia juga masih dipercaya menjadi kapten tim Argentina yang waktu itu mampu melaju sampai babak final. Namun, kemudian tim Tango dikalahkan oleh Jerman 0-1.

Pada Piala Dunia 1994, Maradona pun tetap termasuk dalam tim Argentina. Tapi, akhirnya ia dipulangkan setelah gagal dalam tes penggunaan doping. Waktu itu, Maradona beralasan memakai doping (ephedrine) untuk menurunkan berat badannya agar bisa bermain di Piala Dunia tersebut, yang menurut Maradona akan terasa hambar tanpa penampilannya di lapangan.

Meninggalkan Napoli
Di tahun 1992, Maradona meninggalkan Napoli. Banyak kenangan Maradona di kota ini. Di kota ini, misalnya, ia sempat pula gagal dalam tes penggunaan obat-obatan. Selain terbukti memakai kokain, ia pun pernah diduga kuat menjalin hubungan dengan mafia Italia.

Di Napoli ini pula Maradona belakangan memperebutkan seorang anak bernama Diego Sinagra, yang diakuinya adalah anak kandungnya, dengan ibu si anak, Cristiana Sinagra. Pada 1993, kasus ini harus dibawa ke meja hijau di Italia.

Setelah mengakhiri karir di Napoli, ia bermain di Sevilla FC (1992-1993), Newell’s Old Boys (1993) dan kembali bermain di Boca Juniors (1995-1997). Maradona sempat mencoba menjadi pelatih. Ada dua klub yang pernah dilatihnya, Mandiyú of Corrientes (1994) dan Racing Club (1995). Tapi, sebagai pelatih ia bisa dibilang tidak berhasil.

Sang bintang yang kaya raya dan bertubuh makin tambun itu akhirnya mengundurkan diri dari sepak bola pada 30 Oktober 1997, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-37.

“I am the Diego”
Tiga tahun setelah mengundurkan diri, pada tahun 2000, Maradona menerbitkan buku otobiografi berjudul Yo Soy El Diego (“I am the Diego”) yang langsung menjadi buku best seller di seluruh Argentina. Pada tahun itu juga ia terpilih dalam sebuah polling di internet sebagai “Pemain Abad Ini”. Tapi, rupanya, FIFA kemudian mengadakan pemilihan serupa yang dimenangi oleh Pele. Maradona amat kecewa dengan hal tersebut.

Di tahun 2002, gol yang dicetak Maradona saat melawan Inggris tahun 1986 terpilih sebagai “Gol Terbaik Sepanjang Sejarah Piala Dunia” dalam sebuah polling yang diadakan oleh FIFA.

Dalam kehidupan pribadinya, Maradona menikah dengan Claudia Villafane pada 7 Nov 1989 di Buenos Aires. Pernikahan itu dilangsungkan setelah Maradona sempat memiliki dua anak dengan kekasihnya itu, yakni Dalma Nerea (kelahiran 1987) dan Giannina Dinorah (1989). Pada 2004, mereka bercerai. Setelah itu hubungan Maradona dan Claudia lebih sebagai hubungan antar-teman. Pada Juni 2005, mereka malah melakukan perjalanan bersama ke Napoli untuk serangkaian penghormatan yang akan mereka terima dari warga masyarakat kota itu.

Dirongrong Masalah Obat-obatan
Sekitar tahun 1990-an, kondisi kesehatan Maradona memburuk lantaran kecanduannya pada obatan-obatan terlarang. Berkali-kali ia dikabarkan terlihat di sejumlah klinik penyembuhan ketergantungan obat. Sedangkan di tahun 2001, ia lebih banyak berada di Kuba dan bersahabat penguasa negeri itu, Fidel Castro.

Maradona pernah mengalami serangan gangguan hati akibat over dosis pemakaian kokain pada 18 April 2004. Ia kemudian dirawat secara khusus dan intensif di sebuah rumah sakit di Buenos Aires. Setelah sembuh, pada Mei 2004 ia kembali ke Kuba. Pada Januari 2005, Maradona sempat terlihat berada di sebuah kliik di Kolombia untuk pemeriksaan kesehatan. Lantas, 6 Maret 2005, ia mengumumkan telah melalui sebuah operasi untuk menurunkan berat badan.

Sorotan publik padanya, kehausan masyarakat akan berita sang bintang, memang membuat para pemburu berita tak henti-hentinya mengejar ke mana pun Maradona pergi. Akibatnya, Maradona tak jarang mengancam wartawan yang membuntutinya dengan senjata api. “Mereka telah mengganggu privasi saya,” demikian biasanya Maradona membela diri terkait ancaman dengan senjata api itu.

Banyak orang yang memperdebatkan, siapakah sebetulnya pesepak bola yang paling hebat di antara Pele dan Maradona. Kedua pihak punya argumentasi masing-masing yang sama kuatnya untuk mendukung pilihan mereka. Jadi, lebih banyak pertentangan yang dihasilkan ketimbang sebuah kesimpulan yang definitif.

Perdebatan soal yang satu ini mungkin memang tiada akan pernah habis-habisnya. Yang pasti, sampai saat ini, Maradona juga masih selalu menjadi incaran para juru warta. Sebab, apa yang dilakukannya, diucapkannya, tetap saja ingin didengar dan dilihat para pemujanya yang tersebar di seluruh pelosok jagat. Memang, sungguh sulit untuk melupakan Maradona.

Karir di Klub
-Argentinos Juniors (1976-1981): 166 pertandingan (mencetak 116 gol)
-Boca Juniors (1981-1982, 1995-1997): 71 pertandingan (35 gol)
-Barcelona (1982-1984): 58 pertandingan (38 gol)
-SSC Napoli (1984-1991): 259 pertandingan (115 gol)
-Sevilla (1992-1993): 29 pertandingan (7 gol)
-Newell’s Old Boys (1993): 5 pertandingan (0 gol)

Karir di Tim Nasional Argentina
-1977-1994: 91 pertandingan, (34 gol)
-21 pertandingan di 4 Piala Dunia (1982, 1986, 1990, 1994)
-Pencetak Gol Terbanyak Kedua

Prestasi Bersama Klub
-1981: Juara Liga Argentina (Boca Juniors)
-1982: Juara King’s Cup (FC Barcelona)
-1982: Juara Cup Winners’ Cup (FC Barcelona)
-1987: Juara Liga Italia (SSC Napoli)
-1987: Juara Piala Italia (SSC Napoli)
-1988: Pencetak Gol Terbanyak Liga Italia (SSC Napoli)
-1989: Juara UEFA Cup (SSC Napoli)
-1990: Juara Liga Italia (SSC Napoli)
-1991: Juara Super Cup Italia (SSC Napoli)

Prestasi Internasional
-1979: Juara Piala Dunia Yunior
-1986: Juara Piala Dunia
-1990: Runners-Up Piala Dunia
-1993: Juara Copa Artemio Franchi

Penghargaan Individual
-1979-1981, 1986: Anugerah “Pesepak Bola Terbaik” dari Asosiasi Penulis Sepak Bola Argentina
-1986: Anugerah “Olah Ragawan Terbaik” dari Asosiasi Penulis Olah Raga Argentina
-1979, 1986, 1989, 1990, 1992: “Pesepak Bola Terbaik Amerika Selatan” (El Mundo, Caracas)
-1986: “Pemain Terbaik” Piala Dunia
-1986: “Pesepak Bola Terbaik Eropa” (France Football)
-1986-1987: “Pesepak bola Terbaik Dunia” (Onze)
-1996: Anugerah “Bola Emas” (France Football)
-2000: “Gol Abad Ini” (Tahun 1986, saat Argentina menang 2-0 atas Inggris)
-1999: “Olah Ragawan Abad Ini” dari Asosiasi Penulis Olah Raga Argentina
-2000: “Pesepak Bola Terbaik Abad Ini” hasil pilihan publik
-2005: Anugerah “Domingo Faustino Sarmiento”

Entry filed under: PROFIL PEMAIN. Tags: .

Zidane Profile’s Daftar Juara Liga Champions dan Hall of Fame 1955-2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Status

Supported by

pimp myspace

Informasi

tips pemesanan

%d blogger menyukai ini: